Apa yang Harus Dimakan di Seoul: Panduan Kuliner dari Penduduk Lokal

foodstreet-foodmarketsAgustus 2026

Apa yang Harus Dimakan di Seoul: Panduan Kuliner dari Penduduk Lokal

Pertanyaan yang paling sering kami terima bukan tentang istana atau wisata sehari — melainkan, “Sebenarnya, saya harus makan apa?” Wajar saja. Kuliner Seoul bisa jadi agenda tersendiri, dan juga tempat di mana wisatawan paling banyak menghabiskan uang untuk versi biasa dari makanan yang sebenarnya luar biasa. Jadi, inilah daftar yang selalu kami bagikan ke teman-teman yang berkunjung: hidangan penting, tempat penduduk lokal benar-benar menikmatinya, dan aturan kecil yang membuat semuanya lebih mudah. Untuk panduan lengkap kota, lihat bagian makanan & minuman Seoul kami yang lebih mendalam.

Daftar wajib coba sekilas

  1. BBQ Korea
    Minimal samgyeopsal (perut babi), galbi jika anggaran memungkinkan. Gang-gang panggangan berasap di Jongno-3-ga dan Mapo jauh lebih baik daripada rantai restoran di kawasan hotel.
  2. Klasik Pasar Gwangjang
    Bindaetteok (pancake kacang hijau) goreng renyah dengan semangkuk makgeolli — kombinasi yang tepat — lalu mayak gimbap, dan yukhoe jika Anda cukup berani.
  3. Tteokbokki dari gerobak pinggir jalan
    Kue beras kenyal dalam saus gochujang, disantap sambil berdiri dengan segelas kaldu eomuk untuk meredakan pedasnya.
  4. Chimaek di tepi Sungai Han
    Ayam goreng dan bir yang diantar langsung ke taman pinggir sungai — Yeouido atau Ttukseom, duduk santai di atas rumput.
  5. Ramyeon dari minimarket di tepi sungai
    Masak sendiri dengan mesin air panas dan makan di meja plastik menghadap sungai — salah satu makan malam murah terbaik di Seoul.

BBQ Korea: satu hidangan yang wajib direncanakan

Kalau cuma pesan satu makan malam, pilih BBQ — minimal samgyeopsal (perut babi), galbi kalau anggaran cukup. Daging dibakar di arang, seseorang menyerahkan gunting dan penjepit, dan meja jadi proyek bersama. Itulah intinya: KBBQ adalah makan sosial khas Korea, dan cara makannya adalah membungkus daging dengan daun selada, ssamjang, dan bawang putih, lalu makan sekaligus. Saran jujur kami: gang-gang panggangan berasap dengan langit-langit rendah di Jongno-3-ga dan Mapo adalah tempat para pekerja kantoran nongkrong setelah jam kerja, dan bedanya dengan rantai BBQ di kawasan hotel sangat terasa. Ramai, sempit, sempurna.

Pasar Gwangjang: klasik yang benar-benar nikmat

Bindaetteok sedang menggoreng di minyak di sebuah stan Pasar Gwangjang

Gwangjang adalah ikon street food yang sudah terkenal dengan alasan kuat. Urutan yang selalu kami ulang: bindaetteok (pancake kacang hijau) digoreng renyah dalam minyak dangkal — dipadukan dengan semangkuk makgeolli adalah jawaban yang tepat — lalu mayak gimbap, gulungan rumput laut kecil yang dijuluki “narkotika” karena susah berhenti makan, dan yukhoe (tartare daging sapi Korea) jika Anda cukup berani. Duduklah di stan, tunjuk apa yang dimakan tetangga Anda, dan Anda pasti aman.

Tips: Bawa uang tunai — nenek yang membalik bindaetteok Anda tidak menerima Apple Pay — dan datanglah dalam keadaan lapar tapi hindari jam makan siang puncak, karena lorong-lorong akan penuh sesak.

Kalau ingin melihat sekilas keramaiannya, tur ini merekamnya dengan baik:

Tteokbokki dan sirkuit street food

Tteokbokki sedang dimasak dalam saus merah di gerobak street food Seoul

Tteokbokki — kue beras kenyal dalam saus gochujang — adalah rasa masa sekolah setiap orang Korea, dan versi gerobak pinggir jalan adalah yang harus dicoba: makan sambil berdiri, pedasnya pas, dengan segelas kaldu dari tusuk eomuk (kue ikan) untuk meredakan pedas. Aturan andal untuk semua street food Korea: makanlah di tempat para ajumma (ibu-ibu penjual) memasak dan di mana penduduk lokal mengantri. Gerobak dengan antrean pekerja kantoran jam 6 sore pasti lebih enak daripada jalan kuliner yang dibuat untuk turis. Saat musim dingin, tambahkan hotteok — pancake gula merah cair yang pernah membakar lidah setiap editor kami setidaknya sekali. Tapi tetap layak dicoba.

Chimaek: ayam goreng, bir, dan Sungai Han

Ayam goreng Korea dengan bir — chimaek — adalah tradisi nasional, dan tempat yang tepat adalah di luar ruangan. Ikuti cara lokal: naik subway ke taman tepi Sungai Han seperti Yeouido atau Ttukseom, cari sepetak rumput, dan pesan ayam yang diantar langsung ke taman — zona pengantaran benar-benar ditandai di tanah. Lengkapi dengan ramyeon dari minimarket pinggir sungai: masak sendiri dengan mesin air panas, makan di meja plastik menghadap sungai, ini adalah salah satu makan malam murah terbaik di Seoul dan ritual tersendiri. Padukan malam Anda dengan daftar hal yang bisa dilakukan di Seoul — sungai saat matahari terbenam memang layak reputasinya.

Naengmyeon: agama musim panas

Naengmyeon — mie soba dalam kaldu sapi dingin (mul-naengmyeon) atau dicampur saus pedas (bibim-naengmyeon) — adalah makanan yang dicari saat kelembapan tinggi. Ini juga hidangan penutup tradisional setelah BBQ: semangkuk dingin yang segar setelah makan arang adalah kombinasi terbaik dalam kuliner Korea. Pemula biasanya merasa kaldu terlalu hambar di awal, tapi kemudian menghabiskan sampai tetes terakhir. Tambahkan mustard dan cuka dari meja — memang itulah fungsinya.

Tempat makan favorit penduduk lokal (bukan versi turis)

Filter sederhana yang tak pernah mengecewakan: penduduk lokal makan di gang-gang, ruang bawah tanah, dan warung lingkungan, bukan di “jalan makanan” yang dipenuhi calo dan menu bergambar di depan. Jjigae — sup kimchi atau kedelai yang mendidih saat disajikan — paling nikmat di warung nasi makan siang penuh pekerja kantoran. Gukbap dan kedai mie adalah tempat orang Korea makan sendiri, jadi pelancong solo tak perlu ragu; tak ada yang akan melirik aneh. Dan jika sebuah tempat terkenal karena sering muncul di film, biasanya versi di sebelahnya lebih enak dan lebih murah.

Cara pesan tanpa terlihat bingung

Beberapa hal yang mengejutkan pemula, tapi semuanya kabar baik:

  • Banchan (lauk pendamping) dan air gratis — dan bisa diisi ulang. Meminta tambahan kimchi itu biasa, bukan tidak sopan.
  • Tekan tombol panggil. Sebagian besar meja punya tombol; staf tidak akan mendekat sampai Anda menekan. Kalau tidak ada, teriak “jeogiyo!” (permisi) sudah cukup.
  • Berbagi adalah kebiasaan. Sup dan panggangan diletakkan di tengah meja. Pesan satu porsi per orang plus satu untuk berbagi adalah formula yang pas.
  • Bayar di kasir saat keluar, bukan di meja — kartu diterima hampir di semua tempat kecuali stan pasar.
  • Tidak perlu memberi tip. Di mana pun, kapan pun. Memberi tip biasanya malah membingungkan.

Realitas untuk vegetarian dan alergi

Versi jujur: Seoul lebih sulit untuk vegetarian daripada citra kafe-kafenya. Kaldu biasanya berbasis daging atau ikan teri, dan “tanpa daging” sering berarti masih ada ham di nasi goreng. Solusi yang benar-benar berhasil: bibimbap tanpa daging sapi, restoran makanan kuil di sekitar Insadong dan Jongno, serta toko kimbap rantai besar yang bahan-bahannya bisa dilihat langsung.

Tips: Untuk alergi, kartu terjemahan yang menyebutkan alergen dalam bahasa Korea jauh lebih efektif daripada bahasa Inggris lisan — kedelai, wijen, kerang, dan kacang tersembunyi di banyak saus, jadi periksa bahkan hidangan yang dianggap “aman”.

Satu hal yang kami sarankan untuk dilewatkan

Street food turis yang fotogenik di Myeongdong — segala sesuatu berlapis keju raksasa dengan harga berkali lipat dari pasar. Itu dibuat untuk kamera, bukan untuk makan malam. Bawa selera yang sama ke Gwangjang atau gerobak lingkungan mana pun dan makan dua kali lebih enak dengan setengah harga.


Semua informasi di atas telah diperiksa langsung dengan berjalan kaki (dan dicicipi berulang kali) oleh editor Korea Tripbook, terakhir pada Agustus 2026.